BSIP: Perlu standar adaptasi hadapi El Nino agar tingkatkan luas tanam

4 min read
Standar adaptasi yang mana disebut meliputi pemanfaatan varietas padi antisipasi perubahan iklim, pemupukan berimbang, teknologi hemat air, pengaturan tinggi muka air pada lahan rawa, perbaikan kualitas pakan ternak

Jakarta – Kepala Badan Standardisasi Instrumen Pertanian (BSIP) Kementerian Pertanian Fadjry Djufry mengatakan adaptasi pertanian untuk mengurangi dampak perubahan iklim juga El Nino perlu didukung dengan standar juga aturan yang tersebut mana jelas sehingga dapat meningkatkan luas tanam serta produksi padi.

“Standar adaptasi hal hal tersebut meliputi pemanfaatan varietas padi antisipasi perubahan iklim, pemupukan berimbang, teknologi hemat air, pengaturan tinggi muka air pada lahan rawa, perbaikan kualitas pakan ternak,” kata Fadjry terkait kegiatan “Adaptasi Perubahan Iklim Pada Musim Hujan 2023/2024 Mendukung Peningkatan Luas Tanam” dalam area Tasikmalaya, Jawa Barat, sebagaimana keterangan diterima Sabtu.

Cara-cara adaptasi lainnya untuk meminimalisir dampak perubahan iklim, kata Fadjry, adalah pemakaian aplikasi Kalender Tanam lalu juga Sistem Informasi Standing Crop, penyediaan penyimpan air (embung, long storage, dam parit, kemudian lainnya) serta implementasi konservasi tanah lalu air.

Acara yang disebut digelar oleh BSIP Kementan bekerjasama dengan Perhimpunan Meteorologi Pertanian Indonesia (Perhimpi) didukung oleh Dinas Pertanian, Ketahanan Pangan lalu Perikanan Kabupaten Tasikmalaya.

Tasikmalaya dipilih sebagai perwakilan Provinsi Jawa Barat, yang dimaksud digunakan merupakan salah 1 dari 10 provinsi Gerakan Nasional (Gernas) penanganan El-Nino.

Kementan di tempat dalam bawah Plt Menteri Pertanian Arief Prasetyo Adi menargetkan peningkatan produksi beras 11,9 persen atau 35,8 jt ton pada 2024 yang mana diperoleh dari produksi Gabah Kering Giling 62,11 ton GKG atau naik sekitar 13,46 persen dibandingkan produksi ATAP 2022. Produksi itu dapat dicapai melalui luas panen 11,86 jt ha, melalui peningkatan Indeks Pertanaman di dalam dalam lahan sawah maupun lahan sawah tadah hujan.

Dalam kesempatan itu, dijalankan pula Aksi Tanam Bersama pada tempat Desa Linggajati, Kecamatan Sukaratu Kabupaten Tasikmalaya.

Sekretaris BSIP Haris Syahbuddin, menyerahkan bantuan benih padi varietas Inpari 32 kelas SS sebanyak 250 kg yang dimaksud merupakan preferensi rakyat setempat.

Benih ini selanjutnya dapat dimanfaatkan oleh petani menjadi benih sebar (kelas ES) sebanyak 500 ton yang dimaksud digunakan dapat memenuhi luas tanam 20.000 hektare , benih 250 kg ES untuk 100 ha lahan dengan produksi minimal 5 ton/ha, yang dimaksud yang disebut diharapkan dapat menghasilkan 500.000 kg benih ES.

Potensi persawahan pada Tasikmalaya mencapai 51 ribu hektar, terdiri dari 35.000 ha sawah irigasi lalu 16.000 ha sawah non irigasi.

Kepala Dinas Pertanian, Ketahanan Pangan juga Perikanan Kabupaten Tasikmalaya Nuraedidin menjelaskan bahwa kearifan lokal masih digunakan di dalam dalam Kabupaten Tasikmalaya sebagai antisipasi perubahan iklim, salah satunya pengaplikasian kincir air untuk mengalirkan air dari sumber air ke lahan persawahan yang dimaksud yang sangat membantu dalam memenuhi ketersediaan air.

Sementara itu, Guru Besar Fakultas Pertanian Universitas Siliwangi Maman Suryaman menjelaskan pentingnya peran Perguruan Tinggi dalam penelitian untuk menggalang antisipasi perubahan iklim.

Maman menegaskan pentingnya pemberian materi organik dalam bentuk pupuk kandang maupun pupuk organik lainnya sebelum tanah, yang tersebut yang disebut mempunyai kemampuan menahan air untuk ketersediaan air bagi tanaman.

Selain itu, Maman juga mengungkapkan hasil penelitian sebagai pengaplikasian ekstrak kulit buah-buahan (manggis, buah naga, kemudian lainnya) yang digunakan diberikan ke dalam tanah juga mampu meningkatkan kemampuan tanah dalam menahan air.

Perhimpi memberikan bimbingan teknis tentang pemanfaatan data kemudian informasi iklim untuk perencanaan waktu tanam, juga tentang prediksi iklim hingga skala dasarian atau bulanan dalam jangka waktu satu musim ke depan sehingga diperoleh gambaran kondisi iklim khususnya curah hujan.

“Informasi ini penting dalam rangka antisipasi lalu juga perencanaan yang tersebut tambahan baik guna meminimalkan risiko yang mana kemungkinan akan terjadi. Kapan mau tanam, kapan mau memupuk, semuanya kerugian mampu diantisipasi jika memahami prediksi iklim yang mana yang ada dalam aplikasi,” kata pakar Perhimpi Dr. Elza Surmaini.

Sinergi antar lembaga pemerintah pusat, daerah lalu juga organisasi profesi ini diharapkan dapat menjadi salah satu pilar pencapaian target Kementan 2024 di dalam area antaranya peningkatan produksi beras 11 persen.

You May Also Like

More From Author

+ There are no comments

Add yours