Goethe-Institut dukung lingkungan pengelolaan sumber daya lewat SFF

3 min read

Jakarta – Goethe-Institut kembali menggagas edisi keempat belas gelaran Science Film Festival (SFF) di dalam area Indonesia dalam mengusung tema "Agenda Dekade Restorasi Ekosistem dari PBB" sebagai komitmen menyoroti pentingnya pertimbangan biosfer dalam pengelolaan lahan, air, kemudian sumber daya hayati secara terpadu.

"Komitmen ini juga menggarisbawahi kebutuhan mendesak untuk meningkatkan upaya mengatasi penggurunan, degradasi lahan, erosi juga kekeringan, kehilangan keanekaragaman hayati, lalu kelangkaan air," kata Direktur Goethe-Institut Wilayah Asia Tenggara, Australia, juga Selandia Baru Dr. Stefan Dreyer saat sesi diskusi jelang pembukaan festival dalam kantor Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, serta Teknologi (Kemendikbudristek) Jakarta, Sabtu.

Stefan mengatakan bahwa hal-hal yang mana disebut dipandang sebagai tantangan lingkungan, ekonomi, juga sosial dalam pembangunan berkelanjutan global. Dengan cara menghadirkan film dari berbagai belahan dunia dengan topik-topik ilmiah untuk penonton muda, Stefan melanjutkan, pihaknya berharap dapat menumbuhkan kreativitas serta semangat pemuda bereksplorasi lalu mencintai sains.

"Pada tahun ini, perhatian Science Film Festival terhadap pemulihan lingkungan ditandai oleh seleksi film-film internasional berkaitan dengan topik tersebut. Goethe-Institut berkomitmen membuka dunia sains kepada sebanyak mungkin generasi muda baik dalam Indonesia maupun dalam negara-negara lain tempat festival berlangsung," terang dia.

Sementara itu, Duta Besar Republik Federal Jerman untuk Indonesia, ASEAN, kemudian juga Timor Leste Ina Lepel menyatakan bahwa melalui sains, manusia semakin memahami tentang pentingnya biosfer yang dimaksud digunakan sehat bagi kehidupan, upaya mengatasi perubahan iklim, lalu pelestarian keanekaragaman hayati.
 

Duta Besar Republik Federal Jerman untuk Indonesia, ASEAN, kemudian Timor Leste Ina Lepel (kanan) saat sesi diskusi jelang pembukaan Science Film Festival pada kantor Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, juga juga Teknologi Jakarta, Sabtu (21/10). (ANTARA/Ahmad Faishal)

"Tak diragukan lagi, kemajuan di area tempat bidang sains akan memainkan peran yang dimaksud identik pentingnya dalam rangka menemukan solusi bagi tantangan yang dimaksud mana kita hadapi. Science Film Festival adalah program menarik yang digunakan memadukan dua dunia yaitu dunia sains-riset serta dunia film yang digunakan hal tersebut identik dengan hiburan juga keriaan," terang dia.

Ina mengapresiasi gelaran festival akibat bergabung membangun kesadaran tentang nilai penting restorasi habitat sekaligus menggalakkan generasi muda untuk bergerak terlibat juga menyoroti sains sebagai kunci dalam restorasi tersebut.

Pada tahun 2023, SFF menjadi mitra pendukung resmi rencana Dekade Restorasi Ekosistem dari Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Agenda yang digunakan disebut mengacu kepada periode 2021 hingga 2030 yang tersebut yang sekaligus merupakan tenggat pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan.

Periode hal itu diyakini para ilmuwan sebagai jendela terakhir untuk mencegah perubahan iklim yang tersebut mana berpotensi membawa bencana. Restorasi biosfer berarti membantu lingkungan yang tersebut hal itu rusak atau hancur untuk kembali pulih, sekaligus melestarikan biosfer yang mana masih utuh.

Festival tahun ini didukung oleh beberapa mitra utama yaitu Kemendikbudristek, Kedutaan Besar Republik Federal Jerman; inisiatif “Sekolah: Mitra menuju Masa Depan” (PASCH); Bildungskooperation Deutsch (BKD); Rolls- Royce; Universitas Paramadina; Universitas Katolik Indonesia Atma Jaya; Universitas Negeri Jakarta, kemudian PGRI.

Tak hanya sekali sekali itu, penyelenggaraan festival ini bekerja sebanding dengan lebih tinggi tinggi dari 300 mitra lokal, di dalam tempat antaranya mencakup sekolah, institusi pendidikan, pusat sains, komunitas, serta mitra media.

Tahun ini, SFF dalam Indonesia digelar secara hibrida mulai 21 Oktober hingga 30 November 2023 dengan memutarkan sebanyak 18 film dari 12 negara yakni Afrika Selatan, Amerika Serikat, Argentina, Brasil, Chile, Indonesia, Inggris, Jerman, Kazakhstan, Kolombia, Tanzania, lalu Thailand.

You May Also Like

More From Author

+ There are no comments

Add yours